Vrydag 31 Mei 2013

CATATAN KECIL SEORANG (CALON) DOKTER: DOKTER JUGA MANUSIA

Profesi dokter adalah profesi yang tidak henti-hentinya
disorot. Hampir setiap hari dapat kita baca berita
mengenai profesi yang satu ini, sayangnya sebagian besar
yang ditampilkan adalah berita-berita mengenai
ketidakbecusan dokter dalam menangani pasien, pasien
yang melapor karena menjadi korban “malpraktik”, rumah
sakit yang dikatakan menolak pasien, dan pada akhirnya
akan ditarik kesimpulan ORANG MISKIN TIDAK BOLEH
SAKIT. Meskipun dikatakan betapa sulitnya menjadi
dokter, setiap tahunnya beribu-ribu orang berebut masuk
ke fakultas kedokteran dengan biaya yang fantastis. Jadi
bagaimanakah sebenarnya perjalanan seseorang hingga
dapat menjadi penyembuh yang tidak boleh salah ini?
Menjadi mahasiswa fakultas kedokteran adalah suatu
kebanggaan, apalagi fakultas kedokteran yang
terpandang, di mana untuk masuk harus menyisihkan
ribuan pendaftar. Apakah benar masuk fakultas kedokteran
selalu mahal sehingga ditebus dengan menarik biaya
tinggi setelah lulus? Hal itu tidak sepenuhnya benar.
Mahasiswa kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga angkatan 2010 yang lulus lewat jalur SNMPTN
cukup membayar uang masuk Rp 1.032.500 dan SPP Rp
1.250.000 setiap semesternya.
Selepas euforia diterima di FK, mulailah seorang
mahasiswa kedokteran mempelajari ilmu-ilmu dasar
sebagai landasan untuk kemudian mempelajari penyakit
dan cara-cara pengobatan. Begitu banyak yang harus
dilalui mulai dari menahan bau formalin saat praktikum
pembedahan cadaver (mayat), merelakan diri untuk saling
berlatih mengambil dan memeriksa darah, urin, serta
feces, dan kewajiban mengerti serta menghapalkan
tumpukan buku kedokteran yang tebalnya ribuan halaman.
Semuanya tidak lepas dari pengorbanan para dosen,
dokter, dan profesor yang rela meluangkan waktu serta
tenaga untuk mengajar mahasiswa mulai dari tingkat
paling bawah.
Beberapa gugur, yang lain bertahan, singkat kata, tiga
setengah tahun terlewati, dan luluslah dari FK. Apakah
sudah selesai? Tidak, perjuangan justru baru dimulai,
dengan gelar Sarjana Kedokteran di tangan, para calon
dokter mulai bertugas di rumah sakit sebagai dokter muda
(DM) atau lazim disebut co-ass.
Seorang co-ass bekerja magang di rumah sakit untuk
menangani pasien di bawah pengawasan dokter-dokter
lain yang sudah senior, sehingga tidak benar apabila
dikatakan pasien menjadi kelinci percobaan. Apabila
melakukan kesalahan sedikit saja, dokter muda tidak luput
dari sanksi. Seorang dokter muda diwajibkan ada di rumah
sakit setiap harinya tidak peduli hari Minggu atau hari
raya, juga menjalani jadwal jaga. Jaga di sini berarti
tinggal di rumah sakit dan membantu merawat pasien di
bangsal semalaman suntuk, seringkali tanpa tidur. Setelah
itu masih dilanjutkan dengan mengikuti laporan mengenai
kondisi pasien pagi-pagi benar dan bertugas lagi sampai
sorenya, sehingga boleh dikatakan hidup seorang dokter
muda adalah di rumah sakit dengan jam kerja yang
sangatlah panjang, apalagi di rumah sakit seperti RSUD
Dr. Soetomo yang menerima ribuan pasien setiap harinya
sebagai rujukan Indonesia Timur.
Dokter muda ini harus dijalani selama dua tahun dengan
tetap membayar uang kuliah, semuanya itu adalah bagian
dari pendidikan profesi yang harus dijalani sebelum layak
menyandang gelar “dr.”
Setelah selesai menjalani dokter muda, maka para calon
dokter ini dihadapkan pada UKDI (Ujian Kompetensi
Dokter Indonesia) yang meliputi ujian tertulis dan juga
praktik. Apabila lulus, resmilah ia menjadi seorang dokter.
Lalu apakah berhenti di situ saja? Ternyata belum, dan di
sinilah keprihatinan itu dimulai. Dokter ini harus menjalani
internship atau program penempatan ke rumah sakit tipe C
dan puskesmas di kota-kota kecil selama setahun. Bukan
penempatannya yang menjadi masalah, namun selama
menjalani internship dokter ini tidak boleh dulu berpraktik
sendiri, ia mengabdi di rumah sakit di mana ia
ditempatkan, dengan gaji yang dipukul rata yaitu Rp
1.250.000 dan dibayarkan setiap tiga bulan, jauh di bawah
UMR buruh sekalipun. Masih dengan jam kerja yang
panjang dan tidak menentu ditambah tanggung jawab
kepada pasien, perlu diingat juga bahwa para dokter ini
harus menanggung biaya hidup di kota asing yang
tentunya tidak sedikit.
Selepas internship, seorang dokter dianggap cukup
mumpuni untuk berpraktik sendiri, maka ada beberapa
pilihan yang bisa diambil, salah satunya adalah menjalani
PTT di daerah-daerah terpencil atau menjalani pendidikan
dokter spesialis. Pilihan yang sulit, mengingat meskipun
ada begitu banyak daerah terpencil di seluruh Indonesia
yang masih kekurangan dokter, namun terpilih menjadi
dokter PTT tidaklah mudah dikarenakan terbatasnya
kuota. Menjalani pendidikan spesialis juga bukan tanpa
konsekuensi. Pendidikan spesialis di Indonesia hampir
seluruhnya harus dijalani tanpa gaji, dengan lama
pendidikan bervariasi mulai tiga sampai enam tahun.
Tanggung jawab dan beban kerja seorang calon spesialis
juga jauh lebih berat lagi daripada seorang dokter muda
atau dokter internship.
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengeluhkan sulitnya
menjadi seorang dokter, atau betapa setelah perjuangan
panjang itu dokter harus disanjung dan dihormati. Tulisan
ini hanyalah untuk mengingatkan bahwa di samping semua
itu, seorang dokter tidak dapat bekerja sendiri. Untuk
menciptakan sistem kesehatan yang baik dibutuhkan juga
dukungan sarana prasarana yang memadai. Oleh karena
itu janganlah karena kapasitas rumah sakit yang terbatas,
semua pasien miskin boleh berobat gratis, dan rumah
sakit tidak boleh menolak pasien, lalu apabila ada yang
terpaksa sekali tidak terlayani dengan maksimal lalu
semata-mata menjadi kesalahan dokter dan rumah sakit.
Dokter butuh rasa aman dalam bekerja, dan hal itu akan
sulit tercapai apabila dalam melakukan tindakan selalu
dibayang-bayangi dengan ancaman tuntutan.
Kenyataannya manusia adalah makhluk hidup dengan
jutaan variasi, sehingga meskipun sudah bekerja sesuai
pedoman masih dapat juga terjadi efek yang tidak
diharapkan. Meskipun begitu, di kala para buruh berunjuk
rasa menuntut kenaikan UMR, apakah pernah kita dengar
para dokter protes karena gaji yang tidak memadai,
pemberitaan yang tidak berimbang, atau beban kerja yang
terlalu berat?
Hargailah perjuangan para dokter yang rela bertugas di
daerah terpencil sampai tertular penyakit dan menjadi
korban konflik. Dengarkanlah suara para dokter di tengah
gencarnya program kesehatan pemerintah. Bagaimanapun
dokter akan selalu melayani, sebab semuanya sudah
terucap dalam sumpah di atas kitab suci “Saya akan
senantiasa mengutamakan kesehatan penderita

Donderdag 30 Mei 2013

Aku Membunuh pasien ku

Sore pukul 04.00 aku dikejutkan dengan deringan ponsel
dari saku kemejaku, masih berfikir antara mau jawab atau
tidak. Aku sementara menyetir mobil, perjalanan ke
ibukota kabupaten. Aku tahu betul menerima telepon
pada saat menyetir berbahaya dan melanggar aturan, tapi
rasa penasaranku tidak bisa terhalangi untuk segera
menjawab ponselku
Sore pukul 04.00 aku dikejutkan dengan deringan ponsel
dari saku kemejaku, masih berfikir antara mau jawab atau
tidak. Aku sementara menyetir mobil, perjalanan ke
ibukota kabupaten. Aku tahu betul menerima telepon
pada saat menyetir berbahaya dan melanggar aturan, tapi
rasa penasaranku tidak bisa terhalangi untuk segera
menjawab ponselku.
“Halo, assalamu alaikum dok” tanya si penelpon buru-
buru. Memang di ponselku nomornya tidak dikenali, tapi
suaranya sungguh familiar. Yah, ini Resty. Salah seorang
perawat di puskesmasku.
“waalaikum salam, ada apa dek?” balasku singkat.
“ini dok, ada pasien yang keluarganya minta di infus,
katanya tiba-tiba pusing, tidak bisa makan dan minum.
Tekanan darahnya 120/70 mmHg, biasanya tekanan
darah pasien ini 170/100, riwayat hipertensi memang.”
“yah, sudah kamu infus saja. Ini lagi nyetir dek”
“oke dok.”
Kebiasaan masyarakat di daerahku yang suka dirawat
dirumahnya ketimbang ke puskesmas. Sudah sering aku
menolak rawat rumah, tetapi pilihannya kalau tidak rawat
rumah maka mereka tidak akan pernah ke puskesmas
separah apapun kondisinya. Aku memutuskan untuk
melakukan perawatan rumah sepanjang ada perawat yang
bersedia melakukan perawatan rumah, yah tentu saja
perawatan rumah butuh tenaga dan biaya yang lebih
besar. Aku kembali fokus menyetir mobil, perjalanan butuh
waktu 1 jam ke ibukota kabupaten. Rencana awal mau
menginap, tetapi sepertinya harus segera pulang karena
ada pasien yang mesti segera di visite.
Pukul 08.00 malam akhirnya badanku bisa kurebahkan di
tempat tidur kamarku, tadinya rencana awal ingin segera
mengunjungi pasien. Rasa malas dan kantuk tidak
tertahankan. “yah, masih bisa visite besok. Lagian hari
inikan minggu. Hari libur, dokter juga butuh istirahat” Aku
menggerutu. Kuambil ponselku sambil melihat status-
status galau dari pengguna facebook. Cek twitter, sensasi
Ahmad Fatanah dengan wanita-wanitanya masih
menguasai twitter land.
Hari senin jam 09.00 pagi, aku bergegas ke kantor. Jam
ngantorku itu jam 9 pagi, sudah sejak 3 tahun lalu jam
kantor memang segini. Kalau datang lebih awal, dijamin
akan mendahului pegawai-pegawai lainnya. Stetoskop
poli umum kuletakkan di samping meja. Pasien poli sudah
beres, waktunya home visit.
Seorang wanita berumur kisaran 60 tahun terbaring di
tempat tidur. Tangan kiri terpasang infus, banyak luka-
luka kecil merah kebiru-biruan di kedua tangan.
Sepertinya teman perawat berjuang keras dalam
memasang infus kemarin. Kesadaran wanita ini menurun,
responnya melambat, mudah sekali tertidur, matanya
tertutup. Kutatap perawat disebelahku, ini sudah
somnolen curiga stroke. Kita lanjut periksa dulu. Ada
perbedaan kekuatan kedua tangan, tangan kiri lebih
lemah, pasien bisa menggerakkan tangan dan kaki tetapi
tidak bisa diangkat.
Kusandarkan badan di tembok di kamar pasien. Rasa
bersalah menunda home visite menghantuiku. Pasien ini
terkena stroke dan kupahami betul golden time
penanganan terbaik pasien stroke 3 jam pertama dari
serangan. Ini sudah lebih 24 jam. Pemberian terapi
biasanya tidak maksimal dalam proses penyembuhan.
Hmm, terlambat lagi.
“Ibu, nenek terkena stroke. Tangan kiri dan kaki kirinya
sudah lemah. Nenek susah menelan, malas untuk
membuka mata. Satu-satunya sumber makanan nenek ini
dari cairan infus” Penjelasanku kepada anak pasien.
“iya dok, waktu serangan kami mengira cuma pusing
biasa saja. Ternyata terkena stroke. Selanjutnya
bagaimana ini dok?” tanya anak pasien.
“Infus tetap kita lanjutkan, kalau ibu setuju kami
berencana memasang kateter dan memberikan perawatan
pemberian obat injeksi, semoga membantu memberikan
perbaikan kondisi nenek. Ibu jangan berharap banyak,
karena penanganan nenek sudah terlambat dan bagusnya
diberikan pelayanan rumah sakit sich pasien stroke bu”
“Lakukan yang terbaik saja menurut dokter”
Aku tidak dapat menutupi rasa sedihku. Kalau saja aku
bisa lebih cepat menolong bisa saja ceritanya akan lain.
Mungkin saja. Dokter di puskesmasku memang cuma aku
seorang, itupun dokter PTT yang belum jelas nasibnya di
daerah ini. Idealnya dokter minimal 2 orang, sehingga
ketika ada kegiatan dokter yang bersifat pribadi atau
dinas luar bisa diganti dengan dokter yang lain. Karena
tidak mungkin dokternya harus stand by terus, dokter
juga manusia biasa. Butuh waktu istirahat. Butuh waktu
kumpul dengan keluarga.
“Resty, obat injeksinya piracetam dan vitamin injeksi.
Suruh keluarga beli di tempat praktek. Soalnya obat
seperti itu jarang sekali dijual di desa seperti ini. Harus ke
kota atau pesan dulu. Aku kebetulan punya persediaan 3
ampul bisa digunakan untuk 3 hari. Piracetam 1 ampul itu
15 cc, sekali injeksi 5 cc sehari itu 3 kali. Kalau vitamin
injeksi nya cukup 1 kali 1 ampul sehari intramuskuler yah”
“oke dok, nanti aku hubungi lagi”
Pukul 07.00 malam ponselku kembali berdering. Resty
memanggil.
“Halo dok, injeksinya sudah 3 hari dan tidak ada
perubahan kondisi pasien. Keluarga minta infus dan obat-
obatnya dihentikan” ujar resty di telpon
“Loh ko’ minta lepas infus, itu sama dengan membunuh
pasien loh. Selama ini kan pasien tidak bisa makan dan
minum, nutrisinya itu cuma dari cairan infus”
“Keluarganya ngotot mau lepas infus saja dok, katanya
infus ini cuma menghalangi pasien. Membuat pasien
tersiksa menjelang ajalnya”
“ya, sudah. Kalau kelurga semua sepakat untuk melepas
infus, kamu off saja infusnya”
“oke dok”
Ini bukan pertama kali permintaan keluarga seperti ini.
Banyak sekali pasien-pasien yang secara medis susah
disembuhkan lagi kita tetap rawat, namun dari keluarga
biasanya minta dilepas infusnya dengan alasan
memudahkan proses penjemputan ajal. Ini sudah
termasuk eutanasia, pembunuhan! Hukum indonesia tidak
membenarkan.
Dalam salah satu artikel hukum online pernah aku
dapatkan Kitab Undang-Undang hukum Pidana (KUHP)
mengatur larangan melakukan eutanasia. Pasal 344 KUHP
berbunyi:
“Barang siapa merampas nyawa orang lain atas
permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan
dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana
penjara paling lama 12 tahun”
Tindakan yang aku lakukan termasuk eutanasia pasif,
karena mempercepat kematian dengan menghentikan
pertolongan yang sedang dilakukan. Dalam hukum pidana
indonesia, perbuatan ini bisa dipidanakan. Kembali aku
berfikir dengan kenyataan di rumah sakit pada waktu
koas. Betapa banyak pasien yang dihentikan pertolongan
karena pasien sudah fase terminal. Di ICU misalnya,
pasien banyak dihentikan penggunaan ventilator atas
permintaan keluarga. Rasa frustasi, capek, biaya yang
tidak sedikit menjadi faktor utama penghentian
penggunaan ventilator. Di ruangan perawatan juga,
terkadang ada pasien yang sudah diminta pulang oleh
rumah sakit karena dokter sudah angkat tangan dalam
menangani. Dan banyak lagi kasus lain.
Di negara Belanda yang kita kenal sebagai negara yang
melegalkan eutanasia ternyata tidak sembarangan.
Pengadilan yang menentukan boleh tidaknya dilakukan
eutanasia meskipun sudah ada permintaan dari keluarga
pasien. Penetapan pengadilan yang akan dijadikan dasar
agar keluarga atau dokter yang merawat tidak bisa
dipidana. Di Indonesia pernah ada seorang suami yang
meminta ke pengadilan dilakukan eutanasi kepada istrinya
dengan alasan menghentikan penderitaan dari istrinya,
namun permohonan itu ditolak pengadilan.
“Ting.. Ting..”
Lamunanku tentang eutanasia buyar dengan bunyi sms
ponselku.
“dok, pasiennya baru-baru meninggal”
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, aku membunuh pasienku.

Tips percaya diri

Untuk menjadi pribadi yang percaya diri di depan
umum, langkah pertama yang perlu Anda lakukan
adalah menerima diri apa adanya. Ini sangatlah
penting. Karena, begitu Anda menerima diri Anda apa
adanya, Anda merasa senang dengan diri Anda
sendiri. Artinya, Anda menerima apapun kelebihan dan
kekurangan yang melekat pada diri Anda selama ini.
Tentunya, yang dimaksud dengan menerima
kekurangan disini bukan sama sekali membiarkan
kekurangan diri Anda begitu saja. Sebaliknya. Anda
terdorong untuk memperbaiki kekurangan dengan
sepenuh hati, tanpa putus asa. Langkah pertama
dengan menanyakan kepada diri Anda pertanyaan
berikut ini, dan jawablah sejujurnya!
# Apa saja kekurangan diriku selama ini, yang harus
aku perbaiki, demi mencapai impian muliaku?
# Hal apakah dari diri saya yang kurang disukai orang
lain atau teman saya?
Sementara itu yang dimaksud dengan kelebihan disini
adalah hal-hal positif diri Anda yang patut Anda
syukuri dan maksimalkan. Cara mengenali kelebihan
diri Anda ini sangatlah mudah. Seperti yang saya
bahas di buku dahsyatnya Kemauan, untuk mengenali
kelebihan Anda, jawablah pertanyaan berikut ini :
1. Hal positif apa sajakah yang teman saya sukai dari
diri saya?
2. Apa yang saya sukai dari diri saya selama ini?
3. Apa yang orang lain rindukan dari diri saya?
Langkah kedua, yakinlah pada diri Anda sendiri.
Mengapa keyakinan ini penting? Karena keyakinan
adalah fondasi kehidupan. Sekali kita yakin kepada diri
sendiri, sejak itulah kita lebih mudah melangkah dalam
meraih impian. Cobalah bergaul dengan teman-teman
Anda.
Langkah ketiga, bersyukurlah atas apa pun yang Anda
dapatkan. Bersyukur adalah bukti kebahagiaan
seseorang. Semakin kita pandai bersyukur, semakin
tinggi kebahagiaan yang kita dapatkan. Karena
dengan bersyukur, kita telah mengakui setiap
kebaikan yang kita dapatkan serta menikmati setiap
kebaikan yang kita lakukan.
Langkah keempat, tersenyumlah dengan tulus kepada
setiap orang, termasuk orang yang pernah menyakiti
diri Anda. Karena senyum adalah doa. Setiap doa
adalah kebaikan. Dan setiap kebaikan adalah awal
dari kebahagiaan. Itulah sebabnya semakin sering kita
tersenyum dengan tulus, semakin bahagialah diri kita.
Semakin kita bahagia, semakin percaya dirilah diri
kita.
Selamat menjadi pribadi yang percaya diri dan penuh
bahagia!

Dinsdag 21 Mei 2013

Mendidik Anak

Anak-anak Belajar Dari Kehidupannya jika anak
dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan ia belajar
berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan ia belajar
rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan ia belajar
menyesali diri
Jika anak dibesarkan toleransi ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dorongan ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan pujian ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan sebaik-baik perlakuan ia belajar
keadilan
Jika anak dibesarkan rasa aman ia belajar menaruh
kepercayaan
Jika anak dibesarkan dukungan ia belajar menyenangi
dirinya
Jika anak dibesarkan kasih sayang dan persahabatan
ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya