Dinsdag 18 Junie 2013

Bagaimana menghitung keuntungan usaha

Informasi Bisnis : Bagaimana Cara Menghitung
Keuntungan Usaha? - Salah satu daya tarik yang
membuat banyak orang ingin membuka usaha adalah
mendapatkan keuntungan. Kebanyakan para pengusaha
pemula tidak begitu memahami Bagaimana Cara
Menghitung Keuntungan yang benar. Pada postingan
kali ini, saya bermaksud berbagi informasi
mengenai Bagaimana Cara Menghitung Keuntungan
Usaha?
Berikut ini merupakan urutan Cara Menghitung
Keuntungan Usaha secara sederhana :
1. Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) / Modal
Pokok
Cara menghitung modal pokok penjualan dapat
dijelaskan. Perhitungan modal pokok merupakan hal
pertama yang harus dilakukan untuk mengetahui
keuntungan usaha selanjutnya.
Contoh:
HPP per porsi mi ayam adalah Rp1.500 . Harga pokok
penjualan sebuah burger adalah sebesar Rp1.400 per
buah.
2. Menentukan Harga Jual
Menentukan harga jual bergantung pada keinginan
pemilik dan segmentasi pasarnya.
Contoh:
Kali ini harga jual ditentukan dari harga yang umum di
pasaran. Harga pasaran umum mi ayam adalah
Rp5.000 dan harga pasaran untuk burger adalah
Rp6.000.
3. Menghitung Keuntungan Kotor
Keuntungan kotor adalah hasil keuntungan dari
perhitungan penjualan dikurangi modal pokok akan
tetapi belum dikurangi biaya operasional.
Keuntungan kotor = Penjualan per buah/porsi — Modal
Pokok
Keuntungan kotor/hari = Total penjualan/hari/bulan —
Total modaI pokok atau per bulan
Contoh:
Usaha Burger
Keuntungan burger/buah = Rp6.000 – Rp 1.400 =
Rp4.600/buah
Bila sehari rata-rata dapat menjual 20 buah burger,
berapa keuntungan kotor yang diperoleh setiap hari dan
setiap bulannya?
Keuntungan burger 20 buah/hari adalah = Rp4.600 x 20
= Rp92.000/hari
Keuntungan burger rata-rata/bulan adalah = Rp92.000 x
30 = Rp2.760.000
Usaha Mi Ayam
Keuntungan Mi ayam/porsi Rp5.000 — Rp1.500 =
Rp3.500/buah
Bila sehari rata-rata dapat menjual 50 porsi mi ayam,
berapa keuntungan kotor yang diperoleh setiap hari dan
setiap bulannya?
Keuntungan mi ayam porsi/hari adalah Rp3.500 x 50 =
Rp175.000/hari
Keuntungan mi ayam rata-rata/bulan adalah =
Rp175.000 x 30 = Rp5.250.000
4. Menghitung Total Biaya Operasional
Biaya operasional usaha adalah biaya-biaya lain yang
dibutuhkan untuk usaha selain bahan baku. Biaya
operasional antara lain:
• Biaya Bahan bakar (gas)
• Biaya upah tenaga kerja
• Komisi per buah untuk tenaga keliling (bila ada)
• Biaya transportasi
• Biaya rekening listrik (jika ada)
• Biaya rekening air (bila ada)
• Biaya kerusakan produk, atau sisa yang tidak terjual.
Contoh:
Bila sebulan usaha burger membutuhkan 2 tabung gas
3 kg dan upah tenaga kerja, biaya ongkos belanja
Rp10.000 setiap 2 hari dan total perhitungan sisa yang
tidak terjual 10 buah setiap bulannya. Maka berapa total
biaya operasional burger setiap bulannya?
Perhitungannya adalah:
2 tabung gas @ Rp17.000 = Rp34.000
Gaji pembantu = Rp500.000
Ongkos 10.000 x 15 hari = Rp150.000
Sisa burger 10 x 1.400 = Rp14.000
Total biaya operasional/bulan = Rp698.000
5. Menghitung Keuntungan Bersih
Keuntungan bersih adalah hasil keuntungan yang
sudah dikurangi seluruh biaya operasional.
Cara perhitungannya adalah:
Keuntungan Bersih = Total Keuntungan Kotor/Bulan -
Total Biaya Operasional Setiap Bulan
Contoh:
Dengan total keuntungan kotor usaha burger
Rp2.760.000 setiap bulan dan biaya operasional setiap
bulan Rp698.000. Berapa keuntungan bersih yang
dihasilkan usaha burger tersebut?
Keuntungan bersih/bulan = Rp2.760.000 — Rp698.000
= Rp2.062.000
Alokasi Hasil Keuntungan Bersih
Keuntungan bersih memang mutlak menjadi hak pemilik
usaha, tapi akan lebih baik bila hasil keuntungan bersih
juga ada pengelolaannya sehingga usaha Anda akan
terasa lebih sehat. Akan tetapi Anda sendiri yang
berhak menentukan, pertimbangannya bila semakin
besar persentase pengembalian modal investasi maka
usaha akan lebih cepat balik modal (BEP). Perkecil
persentase kebutuhan konsumtif di awal usaha karena
persentase untuk konsumtif bisa lebih besar ketika
pengembalian modal investasi sudah selesai (BEP).
Berikut ini adalah tips-tips persentasi untuk alokasi
hasil keuntungan bersih usaha :
1. Untuk pengembalian modal investasi = 30—50%
2. Untuk penyusutan alat = 10—20%
3. Untuk pengembangan usaha = 10 —20%
4. Untuk kebutuhan konsumtif = 10—50%

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking